Setelah ayah tiada, barulah hidup seperti membuka rahasianya satu per satu.
Bukan dunia yang berubah, melainkan hati kita yang kehilangan tempat bersandar.
Dulu kita melangkah dengan yakin, sebab ada doa yang diam-diam mengiringi dari belakang.
Kini, setiap langkah terasa lebih berat, karena sandaran itu telah pulang kepada Allah.
Ayah adalah cinta yang bekerja tanpa suara.
Ia jarang memuji, bahkan sering menegur dengan nada yang terasa keras.
Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kasih sayang yang paling jujur.
Tegurannya bukan untuk menjatuhkan, melainkan agar kita tumbuh kuat dan tidak salah arah.
Kita baru memahami maknanya ketika suara itu tak lagi terdengar.
Dalam adat Minangkabau, ayah adalah tungku tigo sajarangan dalam keluarga.
penopang yang menjaga keseimbangan hidup.
Ia mungkin tidak pandai mengekspresikan rasa,
tetapi kehadirannya menenangkan,
dan kepergiannya meninggalkan ruang hening yang dalam.
Cinta ayah tidak pernah meminta balasan.
Ia memberi tanpa menghitung,
mengalah tanpa mengeluh,
dan berjuang tanpa ingin dikenang.
Bahkan saat kita lalai, cinta itu tetap tinggal,
setia hingga akhir hayat.
Kini, ketika ayah telah tiada,
kita belajar bahwa berbakti bukan sekadar saat ia hidup,
tetapi juga ketika ia telah kembali kepada Sang Pemilik Hidup.
Doa anak yang saleh, akhlak yang terjaga,
dan hidup yang bermanfaat
adalah hadiah paling indah yang dapat kita persembahkan untuknya.
Bagi yang masih memiliki ayah,
jangan tunggu kehilangan untuk memahami makna cintanya.
Bahagiakan ia dengan kesantunan,
ringankan bebannya dengan kebaikan,
dan muliakan namanya dengan perilaku yang terpuji.
Dan bagi ayah yang telah pulang,
semoga Allah melapangkan kuburnya,
mengangkat derajatnya,
serta menjadikan kita anak-anak
yang tak putus mengirimkan doa.
— Almi Efendi, SIQ, STh.I
Kepala MDTA Nurul Yaqin Parak Tabu Koto Lalang